Islam dan Sastra Melayu Klasik (7-14 M)

Masuknya Islam ke Nusantara memberikan pengaruh dan perubahan pada banyak segi kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, tata kota, dan tentunya budaya. Apalagi dengan jatuhnya kerajaan Sriwijaya, semakin melanggengkan penyebaran agama Islam di Nusantara khususnya daerah Sumatera dan Semenanjung Malaka. Kebanyakan sumber yang menggambarkan keadaan zaman itu adalah sastra, spesifiknya sastra Melayu klasik.

Bahasa Melayu adalah Lingua Franca di Nusantara mulai abad ke-7, dalam perdagangan, sosialisasi, dan dalam pergaulan. Hampir seluruh wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya menggunakan bahasa melayu.

Sastra Melayu adalah sumber sejarah yang paling banyak lestari yang menceritakan keadaan abad pertengahan. Walaupun karya sastra memiliki kredibilitas yang kurang tinggi sebagai sumber sejarah, namun karya sastra, khususnya sastra sejarah, secara tak langsung menggambarkan fakta dan keadaan riil suatu zaman. Apalagi saat itu masyarakat belum memiliki kesadaran sejarah yang tinggi sehingga sumber-sumber yang ada memang tidak dibuat sebagai sumber sejarah. Jadi, sastra sejarah akan menjadi tinggi kredibilitasnnya karena tak ada sumber lain.

***

Tingginya taraf perkembangan sastra lisan (folklore)yang telah dicapai masyarakat kepulauan melayu, antara lain pada permulaan abad masehi (Parnickel 1980:11-30), dan hubungannya dengan kebudayaan India, menjadi dasar bagi lahirnya sastra tertulis melayu[1].

Sastra melayu merupakan peralihan dari tradisi lisan menuju tradisi menulis, makanya kebanyakan sastra melayu berbentuk dongeng, hikayat, dan transliterasi tradisi lisan. R.O. Winstedt dalam bukunya “Sejarah Sastra Melayu Klasik” membagi evolusi sastra melayu dalam tiga periode. Pertama, ialah zaman evolusi asli dari sastra lisan kuno, dengan sisa-sisa peninggalannya yang lestari dalam folklore melayu. Kedua, zaman pengaruh India terhadap sastra, baik tertulis maupun lisan, dan juga pengaruh jawa yang dalam banyak hal mempunyai kesamaan. Ketiga, adalah periode pengaruh Islam (Arab dan Parsi)[2].

Tetapi hanya pada periode ketigalah sastra melayu berkembang pesat dan banyak produksi tulisannya. Ulama-ulama Nusantara saat itu, Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abdur Rauf Singkel, dan yang lainnya, menggunakan sastra sebagai media penanaman nilai-nilai Islam. Contohnya, Hikayat Amir Hamzah yang berisi cerita tentang paman Nabi, lalu Hikayat Muhammad Hanafiyyah yang menceritakan seorang pahlawan syi’ah keturunan Ali, dan masih banyak lagi hikayat dan karya sastra lainnya yang memiliki unsur keislaman didalamnya.

Sastra Melayu Klasik Islam berkembang di Nusantara pada abad ke-13 dimana Nusantara sudah dikuasai kesultanan-kesultanan Islam dan

Ciri Umum

Ciri umum pada Sastra melayu klasik yang terpengaruh Islam ini pertama, mayoritas hasil sastranya merupakan saduran atau terjemahan dari sastra Arab dan Parsi, biasanya dikerjakan oleh ulama Nusantara yang belajar ke mekkah, atau pedagang yang telah menetap lama di Nusantara. Kedua, kebanyakan tidak menyebutkan tanggal, waktu, maupun pengarangnya, hal inilah yang menjadi kendala dalam merekonstruksinya dari awal sampai akhir. Tetapi, sastra tersebut masih dapat diidentifikasi lewat huruf, gaya bahasa, dan latar kejadian. Ketiga, karya sastra melayu klasik yang muncul pada zaman kesultanan ini umumnya membawa corak Tasawuf, al-Attas (1972) menyatakan bahwa dalam karya-karya mereka, Islam yang dihadirkan adalah Islam yang ditafsirkan mengikuti konsep-konsep Metafisika dan Teologi Sufi[3].

Klasifikasi

Sementara itu, R. Roolvink menyatakan bahwa hal yang paling mudah untuk membagi karya sastra Melayu klasik Islam adalah membaginya berdasarkan kategori dan jenisnya, kemudian ia membagi sastra Islam melayu dalam lima jenis sastra:

1. Cerita Al-Quran, yaitu cerita tentang nabi-nabi atau tokoh-tokoh yang namanya disebut dalam Al-Quran, karya yang paling terkenal adalah Qisa-al-anbiya yang dibuat oleh al-Kisa’i pada abad ke-13.

2. Cerita Nabi Muhammad, yang bercerita tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Namun di Nusantara hanya ada dua karya sastra yang mengisahkan riwayat Nabi Muhammad secara menyeluruh, yaitu Hikayat Nabi Muhammad dan Hikayat Nabi.

3. Cerita Sahabat Nabi Muahmmad, becerita tentang kisah sahabat nabi ataupun orang-orang yang bernah berkomunikasi dengan nabi. Hikayat-hikayat yang membincangkan konteks ini adalah Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat Tamim ad- Dari, Hikayat Abu Syahmah, Hikayat Samaun.

4. Cerita pahlawan Islam, biasanya menceritakan tokoh-tokoh Sejarah yang hidup sebelum agama Islam muncul, seperti kisah raja Yunani, Alexander the Great (323-365 M) yang diceritakan dalam Hikayat Iskandar zulkarnain. Kemudian ada kisah tentang paman Nabi, Hamzah, yang ditulis dalam Hikayat Amir Hamzah. Lalu ada Hikayat Saif Zul-Yazan, yang merupakan saduran dari sebuah kitab arab yang berjudul Sirat Saif Dzul Yazan, buku ini bercerita tentang peperangan antara raja Himyarite dengan raja Habbasyah.

5. Sastra Kitab, yang mencakup satu bisang luas, termasuk ilmu kalam, ilmu fikih, dan ilmu Tasawuf. Jenis sastra ini biasanya disadur dari buku arab yang diterjemahkan kedalam bahasa melayu.

Fungsi

Sastra Melayu Klasik digunakan oleh ulama di Nusantara menjadi media dakwah dan saluran menyampaikan pemikiran. Hamzah Fansuri, seorang tokoh Tasawuf dari Siam[4] contohnya, ia membuat syair dalam menyebarkan pikirannya, banyak syair-syairnya yang terkenal seperti Syair Dagang,Syair Perahu, Syair Pungguk, dan lain-lain. Selain itu sastra, khususnya hikayat, digunakan untuk menjadi motivasi dan pembakar semangat pada saat perang seperti yang terjadi saat malam sebelum orang portugis datang untuk menyerang Malaka. ketika itu komandan tentara datang menemui sultan untuk meminta izin membacakan Hikayat Muhammad Hanafiah pada tentara namun raja ingin dia membawakan hikayat Amir Hamzah dan akhirnya dia membacakan keduanya malam itu juga.

Kesimpulan

Peran Islam dalam sastra melayu klasik adalah membawa ‘kesadaran sejarah’ dan historiografi Islam. Walaupun masih agak bercorak seperti hikayat namun historiografi Islam pada zaman itu menceritakan keadaan sesungguhnya walau alur cerita tidak terikat satu sama lain, contohnya adalah Hikayat Raja-Raja Pasai. Kemudian munculah Historiografi Melayu Tradisional yang bercirikan Islam.

Selain itu Islam juga melakukan penggubahan pada sastra melayu klasik sebelumnya yang terpengaruh India terutama agama Hindu, seperti penyesuaian syair, cerita dan mantera yang kebanyakan kontennya berisi pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu menjadi pemujaan terhadap Allah dan memasukan nilai-nilai rukun iman, Islam, dan sejarah Islam.

Daftar Pustaka

- Barginsky, V.I. , Yang Indah Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu abad 7-19. Jakarta: Insis. 1998

- Fang, Tiauw Yock. Sejarah Kesusastraan Melayu I&II, Jakarta: Penerbit Erlangga. 1993

- Ibrahim, Zahrah. Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Selangor: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1986

- Hidayat, Komaruddin. Reinventing Indonesia:Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Bandung: Mizan Publika

- http://hunafa.stain-palu.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/7-ISLAM-DAN-SASTRA-MELAYU-KLASIK.pdf diunduh pada 3 Maret 2012, pukuk 21.00

- http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1632/1/06001585.pdf diunduh pada 3 Maret 2012, pukuk 21.10

[1] Braginsky, V.I. yang indah, berfaedah, dan kamal: sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19. Jakarta: INIS, 1998. Hal. 31

[2] Ibid. Hal. 7

[3] Hidayat, Komaruddin. Reinventing Indonesia:Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Bandung: Mizan Publika. Hal. 662

[4] Sumber lain mengatakan kalau dia berasal dari Barus, sebuah bandar yang terletak di pantai barat Sumatera Utara.

Ausof Ali
thumbnail
Judul: Islam dan Sastra Melayu Klasik (7-14 M)
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait :

0 comments:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz